Tag: GAPKI

  • KAWAL MASA DEPAN EKONOMI HIJAU INDONESIA, GAPKI JAWAB TANTANGAN

    KAWAL MASA DEPAN EKONOMI HIJAU INDONESIA, GAPKI JAWAB TANTANGAN

    Dok. Istimewa

    MAJALAHNDN.COM- Industri kelapa sawit Indonesia terus menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Namun, di tengah tantangan global dan domestik yang semakin kompleks, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan pentingnya transformasi industri ini agar tetap relevan dan berdaya saing tinggi.

    Sekretaris Jenderal GAPKI, M. Hadi Sugeng, mengungkapkan serangkaian strategi dan harapan agar industri sawit tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memimpin di era ekonomi berkelanjutan. Kunci utama penguatan industri sawit menurut GAPKI adalah peningkatan produktivitas dan hilirisasi. “Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) harus berjalan sesuai target 180 ribu hektare per tahun,” tegas Hadi kepada Siar Indonesia.

    Katanya, GAPKI juga mendorong perusahaan besar melakukan peremajaan menggunakan klon unggul dan menerapkan praktik pertanian terbaik (GAP dan GMP), agar hasil panen meningkat tanpa perlu ekspansi lahan baru.

    Di sisi lain, untuk mendukung program pemerintah dalam swasembada energi dengan meningkatkan bauran biodesel dari produk kelapa sawit (B50, B60, dst) sebagai energi baru terbarukan dengan kajian yang matang dan komprehensif, GAPKI mengusulkan perlunya pengembangan dedicated area untuk energi menjadi solusi cerdas agar kebutuhan sawit untuk biodiesel tidak mengganggu pasokan pangan maupun industri ekspor.

    Tapi Diakuinya, untuk memeluskan harapan tersebut tidaklah mudah. Salah satu tantangan berat dalam negeri terkait industri sawit adalah masih tumpang tindihnya regulasi dan belum tuntasnya penyelesaian kebun sawit yang masuk kawasan hutan. GAPKI berharap pemerintah memberikan kepastian hukum dan menyelesaikan persoalan tata ruang secara adil, sehingga pengusaha sawit dapat beroperasi sesuai koridor hukum dan lingkungan.

    Selain itu, GAPKI menegaskan pentingnya mengikuti aturan dalam pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Setiap PKS wajib memiliki minimal 20% kebun inti dan kemitraan dengan petani, agar tidak merusak rantai pasok dan tata niaga yang telah berjalan.

    Ditambahkan Hadi, tantangan dari luar negeri juga tak kalah besarnya. Pemberlakuan tarif tinggi oleh Amerika Serikat membuat posisi ekspor sawit Indonesia kian tertekan. Beban ekspor Indonesia saat ini mencapai US$ 221,12/ton, jauh di atas Malaysia yang hanya US$ 140/ton. GAPKI mendorong adanya penyesuaian beban ekspor agar produk sawit Indonesia tetap kompetitif di pasar global.

    Di sisi lain, GAPKI juga bersiap menyambut implementasi EU-DR pada 2026 dengan memastikan rantai pasok sawit memenuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan Uni Eropa. Kolaborasi dengan pemerintah dalam diplomasi dagang dan pembenahan regulasi menjadi kunci dalam menghadapi situasi ini.

  • GAPKI Pastikan Ekspor CPO Indonesia Tetap Aman, Gencatan Senjata Iran-Israel

    GAPKI Pastikan Ekspor CPO Indonesia Tetap Aman, Gencatan Senjata Iran-Israel

    dok. Gapki/Ketum Eddy Martono

    MAJALAHNDN.COM- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan bahwa aktivitas ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Indonesia tetap berjalan normal, meski sebelumnya sempat dikhawatirkan terdampak oleh konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang kini mulai mereda.

    Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengungkapkan bahwa hingga akhir Juni 2025, belum terlihat adanya gangguan terhadap proses ekspor CPO nasional. “Sampai dengan saat ini ekspor belum terganggu,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (25/6/2025).

    Sebelumnya, kekhawatiran mencuat bahwa ketegangan di Timur Tengah tersebut dapat memicu penurunan permintaan dari negara-negara tujuan ekspor, yang pada akhirnya berdampak pada turunnya volume pengiriman CPO dan produk turunannya dari Indonesia.

    Data GAPKI mencatat, ekspor CPO dan produk olahannya pada April 2025 mengalami penurunan signifikan sebesar 39%, hanya mencapai 1,77 juta ton. Padahal, pada bulan Maret 2025, volume ekspor masih berada di angka 2,87 juta ton.

    Penurunan paling tajam tercatat pada ekspor produk olahan minyak sawit, yang hanya menyentuh angka 1,24 juta ton, turun 41% dari bulan sebelumnya yang masih berada di 2,12 juta ton. Selain itu, ekspor produk oleokimia juga mengalami penurunan dari 407 ribu ton menjadi 368 ribu ton pada periode yang sama.

    Meski ekspor mengalami tekanan, produksi dalam negeri justru menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga April 2025, total produksi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) tercatat mencapai 18,03 juta ton. Angka ini naik 0,85% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.Di sisi lain, harga CPO global juga mengalami tekanan. Pada perdagangan Selasa (24/6), harga CPO di Bursa Malaysia untuk kontrak pengiriman September ditutup melemah hingga 3,39% ke level MYR3.986 per ton. Ini menjadi posisi terendah sejak 13 Juni 2025 dan mencatatkan koreksi harian terdalam sejak 4 April 2025.